Mahasiswa Public Relations (PR) Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana (UMB) ini tercatat mengikuti berbagai program dan kompetisi, mulai dari terpilih sebagai Google Student Ambassador 2026 Batch 2, masuk Top 20 Nasional Wirasena English Speech 2026, menjadi adjudicator National Schools Debating Championship (NSDC) 2026 tingkat Provinsi Jawa Barat, mengikuti ASEAN Student Experiential Mobility (ASEMO) 2026 di Malaysia, meraih 1st Best Speaker Novice Category Kalimantan Open Debate Competition (KODE) 2026, hingga menjadi PR Youth Ambassador PR Connect 2026.

Namun, bagi Raisa, pencapaian tersebut bukan sekadar tentang gelar atau penghargaan. Setiap kesempatan memberinya keterampilan baru yang kemudian menjadi bekal untuk menghadapi tantangan berikutnya.

Pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika terpilih sebagai Google Student Ambassador 2026 Batch 2. Dari sekitar 300 ribu pendaftar, Raisa menjadi salah satu dari 2 ribu peserta yang lolos. Proses seleksi mengharuskannya menulis motivasi dan membuat sedikitnya lima konten.

Tantangannya, tidak semua keterampilan tersebut sudah dikuasainya. Raisa bahkan harus belajar menggunakan CapCut, Canva, dan IbisPaint dari awal sambil tetap menjalani perkuliahan dan aktivitas organisasi.

“Banyak hal di situ yang belum saya kuasai, jadi saya belajar CapCut, Canva, dan IbisPaint dari nol sambil tetap kuliah dan aktif di organisasi. Mengatur waktu jadi pelajaran tersendiri,” ungkap Raisa.

Proses tersebut tidak hanya membuatnya lebih terampil membuat konten, tetapi juga mengasah kemampuan menulis dan menyampaikan pesan. Ia harus menyusun skrip untuk setiap konten dan memastikan pesan dapat diterima dengan baik oleh audiens.

Menariknya, keterampilan yang diperoleh dari proses tersebut kemudian kembali digunakan ketika Raisa mengikuti seleksi PR Youth Ambassador dan Wirasena English Speech. Dari sinilah ia melihat bahwa pengalaman belajar tidak berdiri sendiri.

“Satu pengalaman ternyata membantu saya di pengalaman berikutnya,” katanya.

Bagi Raisa, kesempatan berkembang juga dimulai dari keberanian untuk mencari dan mencoba. Ia terbiasa mencari informasi mengenai lomba, program, maupun peluang pengembangan diri melalui media sosial, broadcast, serta informasi dari kampus dan mitra UMB.

Dari berbagai proses tersebut, ia belajar bahwa kemampuan komunikasi tidak hanya membutuhkan keberanian berbicara. Ada kemampuan berpikir kritis, menulis, melakukan riset, mengatur waktu, hingga menyesuaikan pesan dengan karakter audiens.

Pengalaman sebagai adjudicator NSDC 2026 bahkan memberinya perspektif yang berbeda. Jika sebelumnya ia terbiasa menyampaikan argumen, kali ini ia belajar melihat argumen orang lain secara objektif dan memberikan feedback yang konstruktif.

Sementara melalui ASEMO 2026 di Multimedia University, Malaysia, Raisa mendapatkan pengalaman berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara dan latar belakang. Pengalaman tersebut memperluas perspektifnya mengenai komunikasi lintas budaya sekaligus melatih kemampuan beradaptasi.

Menurut Raisa, pengalaman-pengalaman tersebut semakin memperjelas hubungan antara apa yang dipelajari di bangku kuliah dengan kebutuhan di dunia nyata.

“Menurut saya, kuliah di PR tidak cukup kalau berhenti di teori. Teorinya perlu dicoba di situasi nyata,” ujarnya.

Sejumlah mata kuliah seperti Public Speaking, Komunikasi Antarbudaya, Human Relations, Marketing Communications, dan Dasar-Dasar Public Relations menjadi bekal yang ia rasakan manfaatnya ketika mengikuti berbagai kegiatan tersebut.

Public Speaking membantunya menyampaikan gagasan di depan orang lain, sementara Komunikasi Antarbudaya membantunya berinteraksi dengan orang dari latar belakang berbeda. Di luar itu, berbagai kompetisi dan program turut melatih kemampuan content creation, time management, critical thinking, dan personal branding.

Bagi Raisa, seluruh pengalaman tersebut merupakan investasi untuk kariernya di bidang komunikasi. Ia ingin terus mengembangkan kemampuan komunikasi, content creation, public speaking, dan strategic communication sambil mencari kesempatan yang mempertemukannya dengan orang serta perspektif baru.

“Setiap pencapaian buat saya baru satu tahap, belum garis akhir,” tutur Raisa.

Ke depan, ia berharap pengalaman sebagai Google Student Ambassador dapat membawanya pada kesempatan yang lebih luas, termasuk suatu hari dapat merepresentasikan Indonesia di lingkup internasional.

Perjalanan Raisa menunjukkan bahwa kesempatan belajar dapat hadir dalam berbagai bentuk. Kompetisi mengajarkan keberanian dan ketangguhan, menjadi adjudicator melatih objektivitas, program internasional memperluas perspektif, sementara pengalaman membuat konten mengasah kemampuan menyampaikan pesan.

Bagi mahasiswa PR, pengalaman tersebut menjadi praktik nyata bahwa kemampuan komunikasi tidak hanya dipelajari, tetapi juga perlu terus dicoba, dievaluasi, dan dikembangkan melalui berbagai kesempatan.