JAKARTA – Pembangunan berkelanjutan membutuhkan perubahan cara pandang dalam industri konstruksi, mulai dari pemilihan material, proses produksi, hingga pengelolaan bangunan. Isu tersebut menjadi pembahasan dalam Seminar Hari Bangunan Indonesia bertema Sustainability Construction to Build Our Future yang diselenggarakan Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana (UMB) bersama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk di Aula Gedung Rektorat Lantai 2, Kampus Meruya, Rabu (4/11/2026).

Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian roadshow Indocement ke sejumlah perguruan tinggi menjelang peringatan Hari Bangunan Indonesia pada 11 November 2026. Tiga pemateri dari industri dan pemerintah hadir membagikan perspektif mengenai penerapan konstruksi berkelanjutan di Indonesia.

Pemateri pertama, Thangamuthu Baskar, Quality Assurance & Research Division Manager PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, membawakan materi Sustainable Construction in Cement Industry. Ia menjelaskan bahwa industri semen memiliki peran penting dalam mendorong konstruksi rendah karbon. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pemanfaatan bahan bakar alternatif, energi terbarukan, serta pengembangan semen campuran yang mampu menekan jejak karbon tanpa mengabaikan kinerja material.

Indocement, antara lain, memanfaatkan limbah sebagai bahan bakar alternatif untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan mengembangkan produk semen yang lebih ramah lingkungan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberlanjutan perlu diperhitungkan sejak proses produksi material, bukan hanya ketika bangunan digunakan.

Perspektif industri pracetak disampaikan oleh Ir. Festy Ratna Aditama, S.T., M.T., IPM, Vice President of Engineering, Quality and HSE Division PT Wijaya Karya Beton Tbk, melalui materi Implementation of Green Construction in Precast Business. Menurut paparan tersebut, sistem pracetak memungkinkan sebagian pekerjaan konstruksi dilakukan di pabrik sehingga pengendalian mutu, efisiensi material, dan pengurangan limbah dapat lebih terukur. Inovasi lain yang dikembangkan mencakup beton rendah karbon, pemanfaatan energi terbarukan, digitalisasi, hingga produk beton untuk mendukung lingkungan.

Sementara itu, Eka Prasetyawati, S.T., M.Tech, Kasubdit Keberlanjutan Konstruksi, Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum, membawakan materi Green Construction Policy & Implementation. Kehadiran perspektif pemerintah melengkapi pembahasan mengenai pentingnya kebijakan dan penerapan konstruksi hijau dalam penyelenggaraan jasa konstruksi.

Ketua Program Studi Teknik Sipil UMB, Dr. Ir. Acep Hidayat, M.T., menyampaikan bahwa seminar ini menjadi ruang untuk memperkenalkan konsep konstruksi hijau dan perkembangan teknologi berkelanjutan kepada mahasiswa. Kegiatan akademik yang menghadirkan praktisi industri dan pemerintah juga memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh wawasan yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja.

Marketing Manager PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, Martin Suy, berharap mahasiswa dapat memperoleh informasi terkini mengenai perkembangan industri bahan bangunan. Menurutnya, bangunan berkelanjutan tidak cukup hanya mengutamakan kekuatan dan kecepatan pembangunan, tetapi juga perlu mempertimbangkan pemilihan material serta dampaknya terhadap lingkungan.

Melalui seminar ini, UMB mendorong keterhubungan antara dunia akademik, industri, dan pemerintah dalam membangun pemahaman mengenai konstruksi berkelanjutan. Sebab, masa depan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak infrastruktur yang berdiri, tetapi juga oleh bagaimana proses pembangunan berlangsung secara efisien, bertanggung jawab, dan memperhatikan lingkungan.