JAKARTA – Tiga dosen Program Studi Desain Produk Universitas Mercu Buana (UMB), Nukke Sylvia, Nina Maftukha, dan Junaidi Salam, menghadirkan karya dengan pendekatan berbeda dalam Indonesian Contemporary Art and Design (ICAD) 16. Ketiganya mengeksplorasi pencarian identitas, pelestarian warisan budaya, dan keberlanjutan melalui karya seni serta desain kontemporer.

Dalam pameran yang berlangsung pada 8 Oktober hingga 8 November 2026 di grandkemang Hotel, Jakarta Selatan, ketiga dosen tersebut menampilkan BOUND (2026), Upageuing: The Epoch of Baduy Threads, dan In fieri. Beragam pendekatan dalam karya-karya ini memperlihatkan bagaimana riset, eksplorasi material, dan gagasan konseptual dapat diterjemahkan menjadi pengalaman visual yang bermakna.

Nukke Sylvia menghadirkan BOUND (2026), karya berukuran 100 × 150 cm yang memadukan lukisan akrilik di atas kanvas dengan figur perempuan hasil teknologi 3D printing yang menonjol keluar dari bidang dan bingkai lukisan. Perpaduan dua dimensi dan tiga dimensi tersebut menjadi metafora perjalanan remaja dalam mencari identitas, mengenali potensi, dan membuka diri terhadap berbagai kemungkinan di masa depan.

Menurut Nukke, figur yang seolah melampaui bingkai menggambarkan keberanian untuk keluar dari batas yang telah terbentuk. Melalui karya ini, ia mengajak pengunjung memahami bahwa proses menjadi diri sendiri selalu menyediakan ruang untuk tumbuh, berubah, dan berkembang.

Sementara itu, Nina Maftukha membawa kekayaan wastra tradisional masyarakat Baduy atau Kanekes ke dalam seni instalasi melalui karya Upageuing: The Epoch of Baduy Threads. Karya ini berangkat dari penelitian sejak 2007 hingga 2026 yang berfokus pada tradisi tenun Baduy, nilai-nilai pakem, dan pendekatan indigenous design thinking.

Puluhan helai wastra berwarna biru indigo, hitam, dan aksen merah disusun bertingkat, dipadukan dengan anyaman topi caping serta tata cahaya dramatis hingga membentuk siluet figur raksasa bersayap. Menariknya, kain digunakan tanpa dipotong atau diubah bentuk aslinya. Pendekatan ini mempertemukan tradisi dan ekspresi kontemporer sekaligus menjaga karakter material budaya.

Nina menjelaskan bahwa karya tersebut mendapat perhatian pengunjung dan sejumlah instansi. Ia juga menyampaikan adanya ketertarikan dari pihak kementerian untuk membukukan ensiklopedia motif tenun Baduy. Ketertarikan ini membuka peluang bagi pengembangan dokumentasi dan pengenalan pengetahuan wastra tradisional kepada masyarakat yang lebih luas.

Adapun Junaidi Salam menampilkan In fieri, kursi patung kontemporer yang mengeksplorasi pemanfaatan limbah cangkang kerang hijau dari kawasan pesisir Jakarta Utara. Melalui rekayasa material, cangkang kerang diolah menjadi struktur utama kursi yang dipadukan dengan tekstil serat alami dan simpul cotton macramé yang dibiarkan terurai pada salah satu sisi.

Nama In fieri, yang bermakna sedang dalam proses menjadi, merepresentasikan transformasi material limbah menjadi objek yang memiliki nilai fungsional dan estetika. Perpaduan tekstur keras cangkang kerang dengan kelembutan anyaman katun juga menghadirkan kontras visual yang memperkuat gagasan tentang proses dan perubahan.

Berbeda dari karya kolaboratif, In fieri merupakan hasil riset mandiri Junaidi Salam dan tidak melibatkan mahasiswa secara langsung dalam proses penciptaannya. Karya ini dirancang untuk dapat dikembangkan sebagai bahan ajar, referensi penelitian lanjutan, serta sumber gagasan bagi kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Ketiga karya tersebut hadir dalam ICAD 16 yang mengusung tema Being: Becoming. Melalui pendekatan yang berbeda, para dosen menunjukkan bahwa seni dan desain dapat menjadi medium untuk memahami pengalaman manusia, merawat warisan budaya, serta merespons persoalan lingkungan.

Partisipasi ini juga memperlihatkan potensi pengembangan riset dan praktik kreatif di lingkungan Program Studi Desain Produk UMB. Mulai dari eksplorasi teknologi tiga dimensi, pengolahan pengetahuan budaya menjadi instalasi, hingga rekayasa material berkelanjutan, setiap karya membuka perspektif tentang luasnya ruang pengembangan desain kontemporer.

Keikutsertaan dalam pameran ini diharapkan dapat memperkuat budaya riset dan berkarya di lingkungan akademik sekaligus memperluas dialog antara perguruan tinggi, pelaku industri kreatif, dan masyarakat.

Melalui karya-karya tersebut, UMB menghadirkan pesan bahwa inovasi tidak selalu berarti meninggalkan hal yang telah ada. Inovasi juga dapat tumbuh dari keberanian mengeksplorasi identitas, menghargai tradisi, dan menemukan kemungkinan baru dari material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.