Berbekal kekompakan dan kemampuan menyusun argumen dalam waktu 15 menit, Ferdiansyah Hadinata dan Alia Azizah meraih juara dalam kompetisi debat bertema efisiensi energi.
Berpikir cepat, menyusun argumen, dan mempertahankan pendapat menjadi tantangan yang harus dihadapi Ferdiansyah Hadinata dan Alia Azizah. Melalui Tim Duo Serigala, keduanya berhasil meraih Juara 1 lomba debat dalam Semercu Sahabat Bumi Vol. 2, hasil kolaborasi Universitas Mercu Buana (UMB) dengan Owrite Goes to Campus.
Kompetisi tingkat internal mahasiswa UMB ini berlangsung melalui babak praseleksi pada 22–23 Juni 2026 dan grand final pada 25 Juni 2026. Mosi yang diperdebatkan mengangkat isu efisiensi energi melalui kebijakan perkuliahan hibrida di perguruan tinggi.
“Dewan ini akan mewajibkan seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk menerapkan sistem perkuliahan hibrida minimal satu hari dalam seminggu sebagai standar permanen kebijakan nasional efisiensi energi,” demikian mosi yang menjadi bahan adu argumen para peserta.
Bagi Ferdiansyah dan Alia, tantangan utama bukan sekadar menyampaikan pendapat, melainkan membangun argumen yang logis dan relevan dalam waktu terbatas. Peserta hanya memiliki waktu 15 menit untuk menyusun case building, mulai dari memahami mosi, menentukan posisi tim, hingga merancang argumen dan mengantisipasi sanggahan lawan.
Keduanya membagi peran secara strategis. Ferdiansyah bertugas sebagai pembicara pertama yang mendefinisikan mosi, menentukan posisi tim, dan membangun fondasi argumen. Alia sebagai pembicara kedua memperkuat argumen tersebut melalui sanggahan dan pengembangan perspektif.
“Kami tidak harus membantah semua poin mereka, tetapi perlu memilih argumen yang paling berpengaruh terhadap inti perdebatan,” ujar Ferdiansyah.
Strategi itu menuntut keduanya untuk saling memahami dan menyatukan pola pikir dengan cepat. Bagi Alia, solidaritas dan kepercayaan menjadi kunci agar argumen pembicara pertama dan kedua tetap selaras, tanpa pengulangan maupun pertentangan.
Pengalaman tersebut juga menjadi tantangan tersendiri bagi Alia yang mengaku belum pernah mengikuti lomba debat sebelumnya. Ia harus membiasakan diri membaca, memprediksi mosi, dan berlatih menyusun argumen secara intensif. Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa kemampuan berpikir kritis dapat berkembang ketika seseorang berani mencoba hal baru.
Keduanya merasakan manfaat debat yang melampaui arena perlombaan. Kemampuan menganalisis persoalan dari berbagai sudut pandang, berbicara secara terstruktur, dan mempertahankan gagasan dinilai relevan dengan aktivitas akademik maupun kompetisi bisnis yang mereka ikuti.
Bagi mahasiswa yang ingin mencoba, Alia berpesan agar tidak menjadikan rasa takut atau merasa terlambat sebagai alasan untuk mundur. “Lebih baik terlambat daripada kamu tidak mencoba sama sekali,” pesannya.
Prestasi Duo Serigala menunjukkan bahwa keberanian belajar, kemampuan mengolah informasi, dan kerja sama dapat menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan. Melalui Semercu Sahabat Bumi Vol. 2, kompetisi debat juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah nalar kritis sekaligus membahas persoalan lingkungan dan keberlanjutan secara argumentatif.
Berita Terbaru Lainnya
Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu, 21 Oktober 2026
Rabu, 21 Oktober 2026
Selasa, 20 Oktober 2026