Sambutan Rektor

SAMBUTAN REKTOR

UNTUK MENYAMBUT TAHUN 2017

Tema: KAUM INTELEKTUAL HARUS MENINGKATKAN HAK PATEN

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakaatuh,

Kualitas pengembangan bidang sumber daya manusia dapat dilihat dari banyak factor. Mulai dari jumlah peneliti pada lembaga penelitian, pengembangan kualitas para peneliti, jumlah artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal teknis, dan jumlah pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan sebagai persentase PDB. Indikator-indikator ini merupakan ukuran kualitas sumber daya manusia diantara negara-negara lain di dunia.

 

Indikator-indikator itu selalu dapat perhatian dengan cepat di negara-negara yang telah berhasil naik kelas dari negara berkembang menjadi negara maju. World Developmnet Indicator menunjukkan kinerja sumber daya manusia. Sebagai contoh Korea Selatan pada tahun-tahun menjelang kenaikan tingkat dari negara berpendapatan menengah ke negara berpendapatan tinggi (2000-2005) mengalami peningkatan. Jumlah peneliti dari 2.193 per satu juta penduduk (tahun 1987-1997) meningkat menjadi 3.760 per satu juta penduduk. Selain itu artikel jurnal (sains dan teknis) dari 4.619 (1997) menjadi 16.396 (2005) dan pengeluaran untuk riset (& PDB) pada tahun 1987-1997 sudah mencapai 2,82% dan pada tahun 2000-2005 mencapai 2,99%.

 

Saat ini Indonesia termasuk negara menengah dengan salah satu ciri utamanya adalah proporsi jumlah pekerja berkeahlian sedang (mid-skilled worker) mulai lebih besar dari pekerja berkeahlian rendah (low-skilled worker). Di dalam jangka panjang, untuk dapat naik dari kelompok negara berpendapatan menengah ke kelompok berpendapatan atas hanya dapat dilakukan dengan meningkatkan jumlah pekerja berkeahlian sedang menjadi pekerja berkeahlian tinggi, meningkatkan kegiatan riset dasar dan rekayasa teknis.

 

Dalam nilai ekspor berteknologi tinggi per PDB (World Development Indicator, Bank Dunia 2010), Indonesia pun masih tertinggal dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, bahkan dengan Filipina yang pendapatan per kapitanya lebih rendah. Pada 2010, nilai ekspor berteknologi tinggi Indonesia sebesar US$ 6.673 juta. Sedangkan Malaysia US$ 59.332 juta, Thailand US$ 34.156 juta, dan Filipina US$ 29.792 juta. Gambaran ini semakin menunjukkan bahwa produktivitas Indonesia dalam ekspor industri manufaktur yang membutuhkan buruh berkeahlian tinggi masih rendah.

 

Inilah salah satu faktor yang menyebabkan investor asing tidak melakukan kegiatan industri hulu seperti riset dan inovasi di Indonesia. Mereka lebih memilih Cina atau India yang memiliki sumber daya manusia mumpuni untuk riset dan inovasi. Penanaman modal asing (PMA) ke Indonesia masih seputar mencari pasar domestik dan suplai bahan mentah— bukan investasi karena alasan efisiensi produksi.

 

Pengeluaran untuk riset dan pengembangan yang masih rendah disebabkan rendahnya kegiatan riset dan pengembangan perusahaan asing di Indonesia, sedangkan di India sudah dilakukan. Fenomena ini juga terkait dengan rendahnya produktivitas riset di Indonesia. Proporsi pengeluaran untuk riset di Indonesia pada 2008 hanya sekitar 0,08%, terendah jika dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand.

 

Juga, bila dibandingkan dengan Korea Selatan Cina dan India. Jumlah peneliti bidang teknik dan rekayasa per satu juta penduduk yang dibutuhkan Indonesia lebih dari 230 ribu orang. Namun, yang ada saat ini masih satu per seribunya. Jumlah publikasi dalam jurnal ilmiah internasional juga terbilang rendah, yakni hanya 270 pada 2011. Bandingkan dengan Singapura (4.543 publikasi), Thailand (2.304), dan Malaysia (2.092). Bahkan, jumlah publikasi ilmiah Indonesia pada tahun tersebut masih lebih rendah dari Vietnam (432). Makin terlihat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Cina (89.894), Korea (25.593) dan India (22.481).

 

Jika indikator jumlah publikasi di jurnal ilmiah internasional, jumlah peneliti bidang teknik per 1.000 penduduk, dan alokasi pengeluaran untuk riset per PDB dipakai untuk mengukur kapasitas Indonesia menuju negara maju, dibutuhkan waktu yang sangat lama bagi negeri ini untuk bisa naik kelas dari pendapatan menengah ke pendapatan tinggi, oleh karena itu pemerintah mesti bekerja keras untuk meningkatkan pendidikan tinggi yang menghasilkan pekerja berkeahlian tinggi serta meningkatkan temuan seperti HAKI dan Paten.

 

Sebagai universitas yang terus berkembang, terus bertambah jumlah mahasiswa dan jumlah dosen serta penelitinya, maka Universitas Mercu Buana akan terus meningkatkan kualitas dan performa risetnya.

 

Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkahi kita semua, Amin.

 

Wabillahi Taufiq Walhidayah

 

Wassalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakaatuh.

 

 

Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, MM.

Rektor