RADIKALISME MERUSAK MAKNA KEBANGSAAN

Ancaman kehidupan berbangsa dan bernegara tidak hanya datang dari faktor eksternal saja. Faktor internal sebuah bangsa juga bisa mengancaman tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, sebagai contoh adalah gerakan radikalisme.

Ketua PP Muhammadiya, Prof. Dr. Haedar Nasir mengaskan gerakan radikalisme di Indonesia merupakan ancaman yang dapat hadir kapan saja, dalam bentuk apapun dan dengan model yang berbeda-beda. Dengan tujuan merusak semangat kebangsaan yang sudah lama terbangun di bumi Indonesia.

“Radikalisme bukanlah milik sekolompok agama tertentu saja. Radikalisme itu bisa diperankan oleh kelompok manapun, dari latar belakang agama, sosial dan budaya manapun,” tegas Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nasir saat memberikan materi dalam seminar Pemikiran Perguruan Tinggi untuk Kebangsaan di kampus UMB, Jakarta, Jumat (8/Des/17).

Gerakan radikalisme, lanjut dia adalah perlawanan yang mengarah pada kerusakan, sedangkan kerusakan merupakan perlawanan terhadap sebuah peradaban. Dimana tatanan kehidupan yang harmonis dan menjunjung tinggi rasa kemanusiaan itu ingin diwujudkan.

Sudah tentu, Ketua Umum PP Muhammadiyan menegaskan para pelaku radikalisme akan mengemas segala bentuk upayanya dalam berbagai isu. Dengan harapan tujuah kehidupan yang diharapkan kelompok radikalisme itu terwujud.

“Sebagai bangsa Indonesia terdapat landasan fundamental yang sudah terbangun melalui ideologi Pancasila. Maka ideologi itulah yang menyatukan semangat kebangsaan dan harus diterima secara penuh oleh semua elemen bangsa Indonesia,” paparnya.

Benih radikalisme, sambung dia merupakan upaya mengganti ideologi Pancasila. Hal itu sama saja ingin mengubah negara Indonesia dengan ideologi lain. Sudah pasti tidka sesuai dengan tuntutan Indonesia yang memiliki keragaman budaya, sosial, suku dan bahasa.

Dia berharap perguruan tinggi mampu terus menjaga nilai Pancasila sebagai falsafah bernegara. Karena tanpa Pancasila, maka masa depan Indonesia akan tercerai berai. Hal itu berarti menghapus Indonesia sebagai sebuah negara. (penulis: Citra Sentosa/ editor: Riko Noviantoro /Biro Sekretariat Universitas dan Hubungan masyarakat / www.mercubuana.ac.id / This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. )